INTELIJENNEWS.COM, BULUKUMBA – Mobil merek Rush berwarna silver yang sejatinya untuk pelayanan masyarakat atau mobil pelayanan darurat di Desa Bontominasa Kelurahan Tanete Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba diduga dipakai kepala desa (Kades) untuk hal pribadi dan disimpan di rumahnya sampai sekarang.
“Saya tidak tau kalau mobil itu untuk pelayanan masyarakat, karena tidak ada tulisan dimobil itu” ungkap masyarakat yang tidak ingin namanya dipublikasikan.
“Saya mengira mobilnya pak desa, ternyata mobil untuk pelayanan masyarakat,” sambungnya.
Mobil tersebut diketahui dianggarkan tahun 2023 melalui dana desa sebesar Rp 290 jt. Mobil itu disebut-sebut susah untuk dipakai oleh warga desa setempat untuk keperluan darurat. Menurut salah satu warga, jika ingin meminjam itu susah karena ada banyak pertanyaan yang diajukan. Informasi yang beredar juga, masyarakat mesti membayar untuk meminjam mobil tersebut.
“Sangat susah kalau masyarakat ingin meminjam itu mobil, karena terlalu banyak pertanyaan, kadang kadesnya tidak mau meminjamkan. Saya juga dengar dari orang, kalau masyarakat yang mau memakai itu mobi, mereka harus mengocek kantongnya untuk membayar Rp 100ribu bahkan ada yang bayar diatas 100ribu,” katanya
“Setahu saya mobil pelayanan masyarakat itu Gratis tidak dipungut biaya. Dan kegunaanyapun untuk keadaan darurat, Itupun kalau ada masyarakat yang sakit, bisa diantar ke puskesmas atau rumah sakit terdekat,” sambungnya lagi.
Menanggapi hal ini, kepala Desa Bontominasa Lukman mengatakan, kalau mobil pelayanan masyarakat yang dianggarkan tahun 2023 yang menggunakan dana desa itu, adalah untuk masyarakat bukan milik pribadinya.
Masyarakat bisa memakai mobil itu secara gratis tapi untuk bensin dan biaya supir ditanggung sendiri tidak oleh Pemdes.
“Kalau ada masyarakat yang membutuhkan pihaknya siap meminjamkan mobil itu. Adapun mengenai BBM, kami tidak menanggung, tapi masyarakat itu sendiri. Kami menyediakan mobil tidak menyediakan BBM, merekalah yang siapkan. Mobil itu bisa jalan kalau ada BBM” kata Lukman
“Jangankan Rp 100ribu pak, bahkan ada yang bayar diatas dari 100ribu. Itu kalau ada masyarakat yang tujuannya keluar kota. Sopir tidak mau mengantar kalau tidak diberi uang pak sebagai upah,” pintanya.
Ia juga menegaskan bahwa uang pembayaran untuk supir tidak masuk ke kas desa apalagi kades itu sendiri. Ia juga mengakui ada mungkin sebagian masyarakat yang belum mengetahui mobil tersebut untuk darurat karena kurangnya sosialisasi.
“Uangnya sopir tidak ada yg masuk ke kas desa, apa lagi ke kadesnya. Pihaknya belum membranding mobil pelayanan masyarakat, itu disebabkan dananya kurang dan sementara akan dianggarkan ditahun 2025 ini,” jelasnya.
Ketika ditanya mengapa mobil tersebut disimpan di rumah kades bukannya di kantor desa. Yang bersangkutan tak menjawab pertanyaan ini.
Dihubungi terpisah Ketua BPD Desa Bontominasa Kamaluddin mengatakan, sepengetahuannya mobil tersebut memang untuk pelayanan masyarakat.
“Saya juga biasa melihat, ada masyarakat yang pakai itu mobil,” tuturnya.
Dan mengenai biaya yang di patok Rp 100ribu, jika ada masyarakat yang membutuhkan kendaraan tersebut. Ketua BPD tidak menjelaskan ha ini.
Lantas, ketika ditanya atas dasar apa mobil pelayanan masyarakat tersebut disimpan di rumah Kades bukan di Kantor desa, menurutnya itu atas persetujuannya sebagai Ketua BPD dan masyarakat. Tetapi ia tak merinci masyarakat yang dimaksud.
“Itu atas persetujuan masyarakat dan persetujuan saya sebagai ketua BPD. Demi keamanan mobil juga,” tutupnya.